In This Economy, Tapi Harga Properti Terus Naik: Rumah Makin Jauh dari Genggaman?

harga properti

prubostonrealty – Ada satu ritual yang sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering kalau ingin hidup tenang: iseng melihat harga rumah.

Awalnya cuma scroll.

“Coba lihat rumah sekitar sini, ah.”

Lalu muncul satu rumah yang kelihatannya lumayan. Dua kamar tidur, ruang tamu tidak terlalu besar, ada sedikit halaman di depan, lokasinya juga masih masuk akal.

Harga: Rp800 jutaan.

Scroll lagi.

Rp950 juta.

Scroll sedikit lebih jauh.

Rp1,2 miliar.

Ponsel kemudian diletakkan perlahan.

Bukan karena rumahnya jelek. Justru karena mulai muncul pertanyaan eksistensial yang tidak diminta.

“Orang-orang sebenarnya beli rumah pakai uang dari mana?”

Welcome to adulthood.

Di satu sisi, kita hidup di era ketika istilah in this economy menjadi semacam lelucon universal. Harga kebutuhan sehari-hari terasa naik, nongkrong harus mulai dihitung, cicilan ada di mana-mana, dan keputusan membeli kopi pun kadang melewati rapat internal selama lima menit.

Di sisi lain, harga properti terus naik.

Tidak selalu naik secara dramatis memang. Data Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial primer pada triwulan II 2026 tumbuh 0,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan 0,62% secara tahunan pada triwulan I 2026.

Jadi secara nasional, ceritanya bukan harga rumah tiba-tiba melonjak puluhan persen dalam beberapa bulan.

Masalah sebenarnya terasa lebih personal.

Ketika harga sebuah rumah sudah berada di angka ratusan juta sampai miliaran rupiah, kenaikan kecil sekalipun tetap berarti tambahan uang yang tidak sedikit. Sementara kemampuan seseorang menabung belum tentu bergerak dengan kecepatan yang sama.

Akhirnya muncul sebuah perlombaan yang agak menyebalkan.

Kita mengejar rumah.

Rumahnya ikut berlari.

Kenapa Harga Properti Terus Naik?

Pertanyaan ini sering menghasilkan jawaban sederhana: karena tanah semakin sedikit.

Jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi cerita sebenarnya jauh lebih panjang.

Harga sebuah properti bukan hanya ditentukan oleh bangunannya. Ada tanah, lokasi, biaya konstruksi, infrastruktur, akses transportasi, permintaan, pembiayaan, sampai ekspektasi mengenai perkembangan sebuah kawasan.

Bayangkan sebuah daerah yang sepuluh tahun lalu masih dianggap “jauh”.

Awalnya jalan belum terlalu bagus. Tempat makan sedikit. Transportasi umum terbatas. Minimarket saja mungkin harus naik motor beberapa kilometer.

Kemudian pembangunan mulai datang.

Jalan diperlebar. Pintu tol muncul. Sekolah dibangun. Supermarket masuk. Kafe mulai bermunculan. Developer melihat peluang dan membangun perumahan baru.

Tiba-tiba daerah yang dulu dianggap antah-berantah mulai muncul di iklan dengan kalimat seperti “kawasan berkembang dengan potensi investasi tinggi”.

Harga tanah ikut berubah.

Lokasi Tidak Bisa Diproduksi Ulang

Developer bisa membangun seribu rumah baru.

Namun mereka tidak bisa menciptakan seribu bidang tanah baru di pusat Jakarta, Bandung, Surabaya, Tangerang, atau kota-kota lain yang sudah padat.

Inilah karakter unik properti.

Bangunannya bisa diperbanyak, tetapi lokasi bersifat terbatas.

Semakin banyak orang ingin tinggal dekat pusat aktivitas ekonomi, semakin tinggi kompetisi mendapatkan tanah di kawasan tersebut. Akhirnya harga bergerak naik atau setidaknya bertahan tinggi.

Itulah sebabnya ketika harga rumah di pusat kota sudah tidak masuk akal bagi sebagian pembeli, pembangunan bergerak menuju pinggiran.

Lalu pinggiran berkembang.

Harga tanah di sana ikut naik.

Pembangunan bergerak lebih jauh lagi.

Siklusnya berulang.

Yang Naik Bukan Cuma Harga Tanah

Misalnya ada sebidang tanah yang harganya tidak berubah selama beberapa tahun.

Apakah berarti harga rumah di atasnya juga bisa tetap?

Belum tentu.

Rumah membutuhkan semen, baja, pasir, kaca, keramik, kayu, cat, kabel, pipa, tenaga kerja, transportasi material, desain, izin, dan sederet komponen lainnya.

Developer kemudian masih harus membangun jalan lingkungan, drainase, fasilitas umum, taman, keamanan, dan infrastruktur kawasan.

Semua itu masuk ke struktur biaya.

Ketika berbagai biaya tersebut meningkat, pengembang menghadapi pilihan yang sebenarnya cukup sederhana: menyerap kenaikan biaya sehingga margin mengecil atau meneruskannya sebagian ke harga jual.

Tidak sulit menebak pilihan mana yang sering terjadi.

Itulah sebabnya membicarakan harga properti Indonesia tidak bisa hanya melihat harga tanah.

Sebuah rumah adalah produk dari rantai biaya yang panjang.

Tapi Kalau Ekonomi Sedang Sulit, Bukannya Harga Rumah Seharusnya Turun?

Nah, ini bagian yang menarik.

Logikanya terdengar masuk akal.

Kalau masyarakat sedang menahan belanja, pembeli rumah berkurang. Kalau pembeli berkurang, developer seharusnya menurunkan harga. Kalau harga turun, kita tinggal menunggu.

Realitas pasar properti ternyata tidak sesederhana diskon akhir tahun.

Data Bank Indonesia memberikan contoh menarik. Pada triwulan I 2026, penjualan properti residensial di pasar primer terkontraksi cukup dalam, yaitu 25,67% secara tahunan. Namun pada periode yang sama, indeks harga properti residensial tetap tumbuh 0,62% secara tahunan.

Artinya, penjualan bisa melemah tanpa otomatis membuat harga nominal rumah ikut jatuh.

Pada triwulan II 2026, kondisi penjualan membaik meskipun masih terkontraksi 2,36% secara tahunan. Harga properti residensial primer pada periode tersebut justru tetap mencatat pertumbuhan 0,69%.

Jadi pasar properti mempunyai karakter yang berbeda dari barang konsumsi biasa.

Rumah Tidak Seperti Tomat di Pasar

Kalau pedagang mempunyai stok tomat terlalu banyak dan besok kemungkinan membusuk, harga bisa diturunkan hari itu juga.

Properti tidak begitu.

Tanah tidak kedaluwarsa minggu depan.

Rumah yang belum terjual juga tidak otomatis kehilangan seluruh nilainya dalam beberapa hari.

Pemilik atau developer tertentu bisa memilih menunggu daripada langsung memangkas harga secara besar-besaran. Dalam kondisi seperti ini, penyesuaian pasar tidak selalu muncul dalam bentuk tulisan “HARGA TURUN 30%”.

Penyesuaiannya bisa muncul dalam bentuk lain.

Developer dapat menawarkan cicilan uang muka, subsidi biaya tertentu, hadiah, skema pembayaran lebih panjang, atau berbagai insentif tanpa mengubah harga dasar secara dramatis.

Akibatnya, dari luar harga rumah terlihat tetap bertahan.

Masalah Besarnya Ada pada Affordability

Sekarang bayangkan dua orang sedang berlari.

Pelari pertama bernama harga rumah.

Pelari kedua bernama kemampuan membeli rumah.

Yang menjadi masalah bukan semata-mata apakah pelari pertama bergerak cepat.

Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang bergerak lebih cepat?

Inilah konsep affordability atau keterjangkauan.

Sebuah rumah Rp700 juta tidak otomatis mahal bagi semua orang. Untuk rumah tangga berpenghasilan Rp100 juta per bulan, angka tersebut mungkin relatif mudah dijangkau.

Namun untuk seseorang dengan penghasilan Rp7 juta per bulan, rumah yang sama terasa seperti proyek keuangan lintas generasi.

Karena itu pembicaraan mengenai “harga rumah naik cuma sekian persen” kadang terasa tidak nyambung dengan keresahan masyarakat.

Persentase kenaikannya mungkin kecil.

Harga dasarnya sudah besar.

Misalnya sebuah rumah berharga Rp1 miliar naik 1%. Tambahannya Rp10 juta.

Bagi seseorang yang hanya bisa menyisihkan Rp1 juta setiap bulan, kenaikan Rp10 juta setara dengan sepuluh bulan tabungan.

Itu baru kenaikan harganya.

Rumahnya sendiri tetap Rp1 miliaran.

Ketika Menabung DP Terasa Seperti Mengejar Garis Finish yang Bergerak

Katakanlah seseorang mempunyai target sederhana.

Dia ingin membeli rumah Rp600 juta.

Target uang muka yang ingin disiapkan adalah Rp120 juta. Kemampuan menabungnya Rp3 juta per bulan.

Tanpa memperhitungkan hasil investasi atau perubahan penghasilan, dibutuhkan sekitar 40 bulan untuk mencapai Rp120 juta.

Lebih dari tiga tahun.

Masalahnya, selama tiga tahun tersebut harga rumah belum tentu diam menunggu.

Rumah Rp600 juta bisa berubah harga. Ketika harga berubah, nominal uang muka yang ideal juga ikut berubah.

Di sinilah muncul perasaan yang cukup familiar bagi calon pembeli rumah.

Sudah menabung, tetapi targetnya bergerak.

Sudah hampir sampai, tetapi garis finish maju beberapa meter.

Lalu media sosial dengan santainya menampilkan seseorang berusia 23 tahun berdiri di depan rumah sambil menulis, “Alhamdulillah hasil kerja keras.”

Kita tidak tahu kerja kerasnya mulai sejak kapan.

Mungkin sejak lahir.

KPR Akhirnya Menjadi Jalan Utama

Kalau harus mengumpulkan harga rumah secara tunai terlebih dahulu, banyak orang mungkin baru bisa membeli rumah ketika rambut sudah mulai putih.

Karena itu KPR menjadi jembatan antara harga properti hari ini dan pendapatan yang akan diperoleh seseorang selama bertahun-tahun ke depan.

Data Bank Indonesia memperlihatkan betapa dominannya metode tersebut. Pada triwulan II 2026, sekitar 70,05% pembelian rumah primer oleh konsumen dalam survei menggunakan skema KPR.

Angka tersebut mengatakan sesuatu yang cukup jelas.

Mayoritas orang memang tidak datang ke marketing gallery membawa koper berisi uang tunai.

Mereka datang membawa slip gaji.

Cicilan Membuat Rumah Terlihat Lebih Dekat

Rumah Rp900 juta terdengar menakutkan.

Namun ketika angka tersebut diterjemahkan menjadi DP sekian persen dan cicilan bulanan selama 15 atau 20 tahun, otak mulai berkata, “Hmm, mungkin bisa.”

Dan memang itulah fungsi kredit.

KPR memungkinkan seseorang menggunakan rumah sekarang sambil membayarnya dari pendapatan masa depan.

Namun ada konsekuensinya.

Kemampuan membeli rumah bukan lagi hanya persoalan harga rumah, tetapi juga uang muka, bunga kredit, tenor, penghasilan bulanan, cicilan lain, dan stabilitas pekerjaan.

Rumah yang harganya sama bisa terasa terjangkau pada satu kondisi bunga dan terasa jauh lebih berat pada kondisi lainnya.

Karena itu fokus pada harga listing saja sering menyesatkan.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: berapa total kewajiban yang harus ditanggung setiap bulan dan apakah cash flow masih sehat setelah membayarnya?

“Mending Beli Sekarang, Nanti Makin Mahal”

Kalimat ini mungkin sudah menjadi soundtrack setiap pameran properti sejak zaman dahulu.

Ada sedikit kebenaran di dalamnya.

Tetapi ada juga sedikit tekanan psikologis.

Data terbaru memang menunjukkan harga properti terus naik, tetapi pertumbuhan harga residensial primer nasional pada triwulan II 2026 hanya 0,69% secara tahunan.

Jadi narasi bahwa semua rumah akan tiba-tiba menjadi jauh lebih mahal bulan depan tidak selalu sesuai data.

Properti sangat lokal.

Kawasan yang baru mendapat akses transportasi atau pusat aktivitas baru bisa mengalami dinamika berbeda dari kawasan yang pasarnya sudah jenuh.

Bahkan dua perumahan yang jaraknya hanya beberapa kilometer dapat memiliki perkembangan harga berbeda.

Karena itu keputusan membeli rumah hanya karena takut “ketinggalan harga” berisiko berubah menjadi keputusan emosional bernilai ratusan juta rupiah.

FOMO mungkin masih bisa ditoleransi ketika membeli sneakers.

Untuk cicilan 20 tahun, sebaiknya jangan.

Apakah Rumah Selalu Merupakan Investasi?

Kita juga perlu membongkar satu kalimat yang sangat populer:

“Properti pasti naik.”

Kata yang perlu dicurigai adalah “pasti”.

Properti memang mempunyai karakter yang membuat nilainya berpotensi meningkat dalam jangka panjang, terutama tanah pada lokasi dengan permintaan kuat.

Namun harga sebuah properti tidak bergerak di ruang hampa.

Ada lokasi, kondisi bangunan, supply, permintaan, akses, perubahan tata kota, biaya pemeliharaan, pajak, likuiditas, hingga kemampuan mendapatkan penyewa jika properti tersebut dibeli untuk disewakan.

Rumah juga berbeda dari saham yang bisa dijual sebagian dalam beberapa klik.

Kalau membutuhkan uang Rp50 juta tetapi aset yang dimiliki adalah rumah Rp1 miliar, kita tidak bisa menjual kamar belakangnya saja kepada pasar.

Menjual properti membutuhkan waktu.

Rumah Tinggal dan Properti Investasi Itu Dua Cerita Berbeda

Ada perbedaan penting antara membeli rumah untuk ditempati dan membeli properti untuk mencari keuntungan.

Kalau rumah ditempati sendiri, return-nya tidak hanya berupa kenaikan harga.

Ada manfaat nonfinansial.

Kita mempunyai tempat tinggal, kestabilan, kebebasan mengatur ruang, dan tidak perlu menghadapi pemilik kontrakan yang suatu pagi mengirim pesan, “Tahun depan sewanya naik ya.”

Sementara properti investasi perlu dihitung lebih dingin.

Berapa harga beli?

Berapa biaya transaksi?

Berapa biaya renovasi?

Berapa potensi sewa?

Seberapa mudah mencari penyewa?

Berapa lama properti mungkin kosong?

Berapa potensi kenaikan nilainya?

Kalau jawabannya hanya, “Pokoknya tanah nggak pernah turun,” analisis investasinya masih perlu diperpanjang.

Haruskah Anak Muda Memaksakan Beli Rumah?

Ini mungkin pertanyaan yang paling sensitif.

Apalagi ketika usia mulai mendekati 30 dan lingkungan sekitar mulai berubah.

Teman satu per satu menikah.

Ada yang upload kunci rumah.

Ada yang mulai membahas renovasi dapur.

Sementara kita masih memikirkan apakah bulan depan kontrakan diperpanjang.

Mudah sekali merasa tertinggal.

Padahal membeli rumah bukan perlombaan umur.

Rumah adalah komitmen finansial besar dan biasanya sangat panjang. Kalau memaksakan cicilan hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial, rumah yang seharusnya memberikan rasa aman justru bisa menjadi sumber stres setiap tanggal gajian.

Ada situasi ketika menyewa masih masuk akal.

Misalnya pekerjaan belum stabil, kemungkinan pindah kota masih tinggi, tabungan darurat belum terbentuk, atau cicilan rumah akan memakan terlalu banyak pendapatan.

Menyewa bukan berarti gagal.

Membeli juga bukan otomatis berarti menang.

Keduanya adalah cara mendapatkan tempat tinggal dengan struktur biaya dan fleksibilitas berbeda.

Tetapi Menunda Terus Juga Punya Risiko

Di sisi lain, mengatakan “nanti saja” selama sepuluh tahun tanpa strategi juga bukan solusi.

Karena meskipun pertumbuhan harga properti nasional saat ini relatif terbatas, harga tetap dapat bergerak, terutama pada lokasi tertentu.

Yang lebih penting, kebutuhan hidup kita juga berubah.

Usia bertambah. Keluarga bisa bertambah. Prioritas berubah.

Karena itu daripada terjebak pada dua ekstrem antara “harus beli sekarang” dan “nggak usah beli rumah”, pendekatan yang lebih masuk akal adalah mengetahui angka pribadi.

Berapa pendapatan bersih?

Berapa pengeluaran rutin?

Berapa dana darurat?

Berapa uang muka yang realistis?

Berapa cicilan yang masih memungkinkan hidup berjalan normal?

Lokasi mana yang sesuai kemampuan?

Apakah rumah tersebut akan ditempati setidaknya beberapa tahun?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya apakah tahun depan harga properti akan naik.

Rumah Pertama Mungkin Tidak Harus Rumah Impian

Ada jebakan lain yang sering tidak disadari.

Ketika membayangkan membeli rumah pertama, kita langsung membayangkan rumah final.

Tiga kamar.

Dua lantai.

Carport luas.

Dapur cantik.

Dekat kantor.

Dekat sekolah.

Dekat mal.

Lingkungan bagus.

Tidak banjir.

Jalan lebar.

Harga murah.

Kalau bisa tetangganya juga menyenangkan.

Masalahnya, kombinasi semua keinginan tersebut mempunyai harga.

Mungkin sangat mahal.

Rumah pertama sebenarnya tidak harus menjadi rumah yang akan ditempati sampai usia 80 tahun.

Untuk sebagian orang, langkah awal bisa berupa rumah lebih kecil, lokasi sedikit lebih jauh, atau spesifikasi yang belum sempurna tetapi masih sesuai kebutuhan.

Ini bukan berarti harus membeli properti apa pun hanya karena murah.

Justru kualitas lokasi, legalitas, kondisi bangunan, akses, dan kemampuan finansial tetap harus diperiksa.

Namun ekspektasi perlu bertemu realitas.

Kadang yang membuat rumah terasa mustahil bukan hanya harga pasar, tetapi daftar keinginan kita sendiri.

Jadi Kenapa Rasanya Harga Rumah Tidak Pernah Memberi Kita Waktu?

Karena rumah berada di persimpangan banyak hal sekaligus.

Tanah terbatas.

Kota berkembang.

Biaya pembangunan berubah.

Permintaan tetap ada.

Kredit membuat pembelian dapat dilakukan tanpa uang tunai penuh.

Dan rumah bukan sekadar barang investasi. Orang benar-benar membutuhkannya untuk hidup.

BPS mencatat pada 2026 sekitar 70,30% rumah tangga Indonesia memiliki akses terhadap rumah layak huni, meningkat dari 68,40% pada 2025. Artinya, kemajuan memang terjadi, tetapi persoalan perumahan jelas belum selesai.

Di sinilah paradoks in this economy terasa.

Kita bisa merasa ekonomi sedang sulit secara personal, sementara harga aset tetap bertahan atau meningkat.

Kedua kondisi tersebut tidak bertentangan.

Pasar tidak melihat saldo rekening kita secara individual.

Rumah Tidak Akan Menunggu, Tapi Kita Juga Tidak Harus Panik

Mungkin ini bagian paling tidak menyenangkan dari menjadi dewasa.

Tidak ada jawaban universal.

Tidak ada usia sakral ketika seseorang harus memiliki rumah.

Tidak ada aturan bahwa menyewa berarti membuang uang.

Dan tidak ada jaminan membeli rumah hari ini pasti membuat seseorang kaya sepuluh tahun lagi.

Yang ada adalah angka.

Harga rumah, pendapatan, uang muka, bunga, cicilan, biaya hidup, tabungan, serta waktu.

Semua harus duduk di meja yang sama.

Harga properti terus naik memang merupakan realitas yang layak diperhatikan. Data Bank Indonesia terbaru menunjukkan harga residensial primer masih tumbuh, meskipun pertumbuhannya relatif terbatas. Pada saat yang sama, sekitar tujuh dari sepuluh pembelian rumah primer dalam survei BI dilakukan melalui KPR.

Artinya, membeli rumah memang bukan keputusan kecil yang biasanya diselesaikan dengan beberapa bulan menabung.

Ini proyek finansial jangka panjang.

Jadi ketika malam-malam kita iseng membuka listing properti dan melihat rumah Rp1 miliar, mungkin tidak perlu langsung menutup aplikasi sambil mempertanyakan seluruh keputusan hidup.

Lihat angkanya.

Hitung kemampuan.

Bandingkan lokasi.

Susun target uang muka.

Pelajari cicilannya.

Dan kalau hari ini memang belum mampu, setidaknya sekarang target tersebut bukan lagi sekadar “suatu hari ingin punya rumah”.

Ia sudah punya angka.

Karena dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, mungkin kita memang tidak bisa memaksa harga rumah berhenti bergerak.

Tetapi kita masih bisa memastikan rencana keuangan kita ikut bergerak.

Referensi

Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan II 2026: Harga Properti Residensial Meningkat Terbatas”: https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2815226.aspx

Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan I 2026: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas”: https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_289726.aspx

Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial Triwulan IV 2025: Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas”: https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_283226.aspx

Bank Indonesia, “Survei Harga Properti Residensial di Pasar Primer”: https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/default.aspx?kategori=survei+harga+properti+residensial+di+pasar+primer

Badan Pusat Statistik, “Statistik Perumahan 2026: Akses Rumah Layak Huni Meningkat”: https://www.bps.go.id/id/news/2026/08/22/937/bps-rilis-perdana-statistik-perumahan-2026–akses-rumah-layak-huni-meningkat.html

Categories: